Implementasi Keahlian Interpersonal dalam Dunia Kerja



Selama ini disinyalir telah terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi. Sedangkan dunia kerja menganggap bahwa lulusan yang high competence adalah mereka yang mempunyai kemampuan teknis dan sikap yang baik. (int)




---------------------


Implementasi Keahlian Interpersonal dalam Dunia Kerja


Oleh: Prof Muhammad Basri Wello
(Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar)

Selama ini disinyalir telah terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi. Sedangkan dunia kerja menganggap bahwa lulusan yang high competence adalah mereka yang mempunyai kemampuan teknis dan sikap yang baik.

Kemampuan teknis adalah hard skill yang dipelajari di kelas dan di laboratorium. Mereka yang belajar dengan rajin, giat, dan tekun akan memperoleh kemampuan teknis yang baik, dicerminkan salah satunya dengan nilai yang tinggi.

Contohnya adalah kemampuan membuat program. Perusahaan dapat dengan segera melihat apakah seorang calon karyawan benar-benar dapat membuat program pada saat diuji atau tidak. Masalahnya, mempunyai kemampuan teknis yang tinggi saja dianggap tidak cukup.

Banyak kalangan industri yang mengeluhkan bahwa lulusan sekarang banyak yang kurang memiliki sikap yang baik. Misalnya, tidak dapat memenuhi kontrak kerja, tidak dapat menentukan gaji pertama mereka sendiri tetapi setelah dua bulan bekerja mereka mengeluh tentang gaji yang rendah, kurang dapat bekerja sama, tidak punya leadership, integritas pribadi dipertanyakan, etika kurang, dan sebagainya yang kesemuanya tidak dapat ditelusuri dari nilai yang tinggi dan kelulusan yang tepat waktu semata.

Sikap baik seperti integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya, yang diminta oleh kalangan pemberi kerja adalah atribut soft skill.

Soft skill didefinisikan sebagai “personal and interpersonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making, initiative). Soft skills do not include technical skills, such as financial, computer or assembly skills” (Berthal, 2003).

Mengapa  Interpersonal

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill, tetapi juga piawai dalam aspek soft skill-nya, terutama interpersonal.

Dunia pendidikan pun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (interpersonal skill).

Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill, sedangkan sisanya 80% oleh soft skill.

Faktanya, pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill (akademik, IPK, nilai UN), bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja.
Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill/interpersonal skill dalam kurikulum pendidikan, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skill-nya.

Perlunya Interpesonal Skills

Secara lebih spesifik, jika dikaitkan dengan dunia kerja, kebutuhan kita untuk memperbaiki kemampuan interpersonal itu karena beberapa alasan.

Pertama, untuk mendapatkan informasi yang sangat pribadi. Informasi yang sifatnya umum dan untuk orang banyak, ini bisa Anda peroleh melalui koran, radio, teve, majalah, atau internet. Tetapi untuk informasi yang sifatnya sangat pribadi, Anda hanya akan memperolehnya dari manusia yang Anda kenal.

Kedua, untuk menambah power. Semakin banyak jaringan yang Anda bangun, semakin kuat power Anda. Power ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang bentuknya jabatan, keahlian, uang, kharisma, dan lain-lain. Jaringan termasuk sumber power.

Ketiga, untuk memperbaiki pengetahuan tentang diri sendiri. Semakin banyak orang yang kita kenal biasanya semakin banyak kita mengenal diri kita. Ini karena, orang lain itu merupakan cermin bagi diri kita. Kita bisa melihat diri kita dari melihat orang lain.

Keempat, untuk meningkatkan kemampuan menciptakan solusi. Jaringan yang kita bangun juga merupakan sumber solusi atas masalah yang kita hadapi.

Kalau melihat berbagai hasil kajian di bidang kompetensi, misalnya National HPDM (High Performance Development Model) milik US Department of Veterans Affairs. Ada sejumlah keahlian yang diunggulkan untuk menghadapi era global. Ini bisa Anda gunakan sebagai acuan pe-ngembangan diri, terlepas apapun profesi dan pekerjaan Anda.

Di era global sekarang ini, dunia kerja semakin kompetitif dan menuntut standar kompetensi, keahlian, dan soft skill yang tinggi bagi seseorang untuk bersaing mendapatkan pekerjaan dan posisi yang diharapkan.

Mitshubishi Research Institute ( 2002) dalam surveinya mengungkapkan bahwa faktor yang memberi kontribusi keberhasilan dalam dunia kerja, yaitu soft skills 40 persen, finansial 10 persen, keahlian bidang 20 persen, networking 30 persen.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Center for Enterpreuneurship Education and Development, Halifax, Nova Scotia, (2004) di Inggris, Amerika, dan Kanada, disimpulkan bahwa ada 23 atribut softskills yang dominan di lapangan kerja.

Ke-23 atribut tersebut diurut berdasarkan prioritas kepentingan di dunia kerja, antara lain inisiatif, etika/integritas, berpikir kritis, kemauan belajar, komitmen, motivasi, bersemangat, dapat diandalkan, komunikasi lisan, kreatif, kemampuan analitis, dan dapat mengatasi stres.

Hal serupa juga diungkap oleh hasil survei NACE (2002) yang menyimpulkan bahwa ada 20 aspek skill yang diperlukan seseorang untuk sukses dalam bekerja yang diurut berdasarkan skor dari survei (skala 1–5), antara lain kemampuan berkomunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, etos kerja yang baik, memiliki moti-vasi/inisiatif, mampu beradaptasi, kemampuan analitikal, kemampuan komputer, dan kemampuan berorganisasi.

Adapun aspek aspek interpersonal skill yang akan dibahas pada kesempatan ini adalah lebih kepada implementasi aspek-aspek tersebut dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari yang mencaku (dikutip dari berbagai sumber).

Pertama, keahlian interpersonal. Keahlian interpersonal adalah kemampuan seseorang dalam membangun hubungan, menjaga hubungan, atau menyelesaikan konflik hubungan secara positif.

Orang yang bagus dalam kemampuan ini biasanya punya ciri-ciri antara lain, empati: bisa berbagi dan peduli pada orang lain, mendukung kemajuan orang lain (developing others), berkomunikasi secara efektif, bisa mendengarkan orang lain, punya komitmen yang tinggi dalam menaati janji atau kesepakatan, bisa menghormati orang lain, dan bisa melihat sisi positif dan negatif secara objektif.

Kedua, keahlian dalam melayani orang lain/pelanggan (customer service). Keahlian ini adalah kemampuan seseorang dalam menyatukan dan menjalankan strategi pelayanan atau kesediaan orang untuk  melayani/membantu orang lain.

Orang yang bagus dalam kemampuan ini biasanya punya ciri-ciri antara lain memahami bahwa melayani orang lain merupakan kunci keberhasilan untuk meraih kesuksesan atau prestasi, punya komitmen yang bagus dalam melayani orang  lain, bisa menangani komplain secara efektif dan konstruktif, bisa mendesain sistem kerja yang tanggap terhadap kebutuhan orang lain, dan punya data yang akurat tentang kebutuhan orang lain.

Ketiga, keahlian dalam berpikir (thinking system). Keahlian ini adalah kemampuan seseorang dalam memahami situasi dengan cara menguraikan masalah menjadi bagian-bagian yang lebih rinci (faktor-faktor penyebab masalah), atau mengamati akibat suatu keadaan tahap demi tahap berdasarkan pengalaman masa lalu.

Orang yang bagus dalam kemampuan ini biasanya punya ciri-ciri antara lain; bisa menguraikan masalah menjadi bagian-bagian/tugas/kegiatan sederhana, bisa melihat hubungan mendasar, menganalisis hubungan antara beberapa bagian dari persoalan, bisa membuat hubungan sebab-akibat yang sederhana dan mengkaji keuntungan dan kelemahan setiap alternatif, dan bisa membuat prioritas tugas berdasarkan tingkat kepentingan.

Keempat, keahlian dalam menghadapi perubahan (adaptasi). Keahlian ini adalah kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan perubahan, kemampuan dalam mengatasi masalah baru, dan kemampuan dalam mengakomodasi hal-hal baru.

Orang yang bagus dalam kemampuan ini biasanya punya ciri-ciri antara lain; sanggup menjalin hubungan dengan siapapun, dapat memberikan respons yang tepat terhadap situasi baru, dapat menangani tugas secara bersama-sama tanpa mengurangi kualitas, dan membuka diri terhadap ide baru dari berbagai sumber.

Kelima, keahlian kreatif. Keahlian ini adalah kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak secara inovatif, bisa melihat situasi yang unik di antara realitas yang ada, bisa melihat peluang, berani mengambil risiko, berani melawan asumsi tradisional yang tidak produktif dan mampu menciptakan solusi atas problem secara efektif dan efisien.

Orang yang bagus dalam kemampuan ini biasanya punya ciri-ciri antara lain; menghargai ide-ide baru atau pendekatan baru, bisa melihat sesuatu yang mencerahkan di balik realitas, bisa menicptakan pemikiran dan tindakan kreatif (baru, berbeda, dan bermanfaat), punya kemauan untuk mengambil resiko hidup, dan punya keberanian untuk melawan asumsi umum.

Keenam, keahlian dalam mengembangkan diri. Keahlian ini adalah kemampuan seseorang dalam menyadari kekuatan dan kelemahan dan dalam mendorong proses pembelajaran bagi dirinya. Orang yang punya kemampuan ini biasanya punya dorongan untuk melakukan sesuatu demi lahirnya perubahan ke arah yang positif.

Ciri-cirinya antara lain punya rasa tanggung jawab untuk mengembangkan diri untuk meraih prestasi, mau dan mampu memanfaatkan waktu untuk melakukan refleksi diri demi tercapainya keseimbangan, bisa mengelola dirinya secara efektif (good self-management), punya inisiatif untuk melakukan proses pembelajaran secara berkerkelanjutan, dan selalu mencari informasi untuk memperbaiki diri.

Ketujuh, keahlian teknis. Keahlian ini adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan, kemampuan dalam menggunakan pengalaman, dan kemampuan dalam mengaplikasikan pengetahuan atau keahlian.

Ciri-cirinya antara lain mampu mendemonstrasikan skill yang relevan dengan pekerjaan, mengerti proses, prosedur, standar, metode dan teknologi yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan, mendemonstrasikan pemahaman teknis yang dibutuhkan pekerjaan, selalu mengikuti perkembangan sesuai dengan keahliannya, bisa menjalankan pekerjaan secara cepat berdasarkan waktu yang diharapkan, serta punya rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga kualitas atau standar kerja yang tinggi.

Ringkasnya, untuk sukses dalam meniti karier kita, ada tiga hal yang perlu kita miliki, yaitu keahlian (kecerdasan intelektual), kesalehan (kecerdasan spiritual), dan komunikasi (kecerdasan sosial).
----
(Orasi ilmiah Prof Muhammad Basri Wello pada upacara wisuda sarjana Universitas Pepabri Makassar, 30 Januari 2014)

------------------------------------------------------------
@copyright Majalah Almamater, edisi Agustus 2014
------------------------------------------------------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini