Unhas Belum Direken


SULTAN HASANUDDIN AWARD. Rektor Unhas Prof Idrus A Paturusi (kedua dari kiri) dan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (ketiga dari kiri), foto bersama tiga penerima Sultan Hasanuddin Award, yakni Dirut PT. Taspen Iqbal Latanro (paling kiri/alumni berprestasi), anggota DPR RI HM Malkan Amin (kedua dari kanan/membantu pembangunan infrastruktur di Unhas), dan Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Muhammad Nizam (ide dan jasanya dalam membantu terwujudnya KKN Kebangsaan), pada acara Dies Natalis ke-57, di Baruga AP Pettarani Kampus Unhas, Selasa, 10 September 2013. Penghargaan Sultan Hasanuddin Award juga diberikan kepada Prof Junichi Hamawaki (Hamawaki Hospital Japan) dan Prof Youssef Amin Emil Ghabrial (Royal Newcastle Centre, Australia) atas jasanya dalam bidang ortophedi. (Foto: Asnawin)



----------------------

Unhas Belum Direken


Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, boleh saja berbangga sebagai perguruan tinggi terkemuka di kawasan timur Indonesia dan perguruan tinggi yang telah mendapatkan Akreditasi A secara institusi.

Perguruan tinggi negeri yang resmi berdiri pada tahun 1956 ini juga boleh berbahagia karena banyak alumninya yang telah menempati atau menduduki posisi penting di tingkat nasional, dan rektornya (Prof Idrus A Paturusi) bahkan menjabat Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia, sekaligus Presiden ASAIHL (asosiasi yang menghimpun ratusan perguruan tinggi se-Asia Pasifik).

Sayangnya, Unhas hingga kini belum terlalu direken sebagai salah satu perguruan tinggi ternama atau terbaik di Indonesia, apalagi di tingkat internasional.

Dalam daftar peringkat perguruan tinggi terbaik di dunia tahun 2013, yang dirilis Webometrics (lembaga yang memiliki afiliasi dengan Dewan Riset Nasional Spanyol dengan mengumpulkan daftar seluruh perguruan tinggi di dunia), Unhas hanya menempati peringkat ke-2.554, atau peringkat ke-26 dalam daftar 50 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Perguruan tinggi asal Indonesia yang menempati urutan tertinggi adalah Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berada pada peringkat ke-600, menyusul Universitas Gadjah Mada (UGM) pada peringkat ke-640, dan Universitas Indonesia (UI) pada urutan ke-653.

Dalam pemeringkatan berbagai lembaga lainnya, Unhas juga belum mampu menembus 10 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Menuju World Class University


Untuk mengejar ketertinggalan itu, Unhas telah membuat Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) 2030, sekaligus sebagai upaya menuju world class university atau universitas kelas dunia.

Sebagai bagian dari strategi internasionalisasi institusi, kata Rektor Unhas Prof Idrus A Paturusi, dalam bidang akademik, Unhas telah mengambil beberapa langkah, antara lain mengadakan pertukaran mahasiswa dengan universitas di mancanegara, internasionalisasi kurikulum, dan penerimaan mahasiswa internasional.

“Pada tahun 2013 ini, jumlah mahasiswa internasional yang sedang menempuh pendidikan di Unhas sebanyak 416 orang, baik pada program sarjana (S1), maupun pada program pascasarjana (S2 atau S3),” ungkap Idrus, pada acara peringatan Dies Natalis ke-57 Unhas, di Baruga AP Pettarani Kampus Unhas, Makassar, selasa, 10 September 2013.

Selain itu, Unhas juga melakukan pertukaran dosen, kuliah tamu ke luar negeri, serta mendatangkan dosen tamu asing untuk mengajar atau memberikan kuliah umum.

Upaya lain untuk internasionalisasi adalah menjalin kerjasama dalam berbagai bidang dengan pemerintah dan lembaga mancanegara, termasuk kerjasama riset internasional.

Idrus mengatakan, sebagian besar target Renstra telah tercapai, bahkan beberapa di antaranya telah terlampaui, tetapi dia juga mengakui bahwa masih ada beberapa target kinerja utama yang tertinggal atau belum diraih.

Target-target yang belum tercapai, antara lain belum diperolehnya sertifikasi ISO 17025:2008 bagi laboratorium di Unhas, belum terjadi penambahan kelas internasional, minimnya jurnal internasional yang diterbitkan Unhas, minimnya jumlah artikel dosen yang disitasi oleh lembaga sitasi internasional, serta belum diperolehnya akreditasi prodi oleh lembaga akreditasi internasional.

“Kondisi ini patut menjadi catatan bersama bagi seluruh sivitas akademika untuk mengambil porsi keterlibatannya dalam mendukung pencapaian kinerja yang tertinggal,” tandas Idrus. (asnawin)


-----
@copyright Majalah Almamater, edisi ke-5, Vol.II, November 2013.

Komentar

Postingan populer dari blog ini