Kita dan Tukang Becak



Tak jarang, kita justru terhenyak dan malu ketika melihat kenyataan bahwa mereka yang rendah tingkat pendidikannya, ternyata lebih bijak dibandingkan kita. Kita jadi malu ketika melihat mereka tampaknya lebih tenang dan lebih bahagia dengan segala kesederhanaan dan kekurangannya. Mereka yang profesinya tergolong kasta terendah, seperti tukang becak dan sopir taksi, juga tak jarang “memberi pelajaran yang sangat berarti” kepada kita. -- Asnawin --








------------


Kita dan Tukang Becak


Oleh: Asnawin

Kecerdasan dan intelektualitas seharusnya mampu mengantarkan kita menjadi bijak bestari. Dengan kecerdasan dan intelektualitas, seharusnya kita selalu menggunakan akal budi dalam setiap ucapan, tindakan, dan perbuatan.

Sayangnya, kecerdasan dan intelektualitas yang kita miliki, justru kerap disalahgunakan dan membuat kita jauh dari sikap bijak bestari.

Tak jarang, kita justru terhenyak dan malu ketika melihat kenyataan bahwa mereka yang rendah tingkat pendidikannya, ternyata lebih bijak dibandingkan kita. Kita jadi malu ketika melihat mereka tampaknya lebih tenang dan lebih bahagia dengan segala kesederhanaan dan kekurangannya.

Mereka yang profesinya tergolong kasta terendah, seperti tukang becak dan sopir taksi, juga tak jarang “memberi pelajaran yang sangat berarti” kepada kita.

Pernah suatu masa, saya rajin melak-sanakan shalat lima waktu pada sebuah masjid di Makassar. Di antara jamaah yang sering saya lihat dan saya yakin jamaah tersebut lebih sering meluangkan waktunya ke masjid, ternyata berprofesi sebagai tukang becak dan sopir taksi.

Kedua orang itu bukan sarjana. Mereka bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan pada sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).

Pada masa yang lain, saya sering berpapasan dan saling melemparkan senyum dengan seorang tukang becak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Suatu hari saya shalat Jumat pada salah satu masjid di Gowa. Setelah melaksanakan shalat tahiyatul masjid, saya dan jamaah yang lain berdzikir sambil menunggu khatib dipersilakan naik ke mimbar. Tak lama kemudian, khatib dipersilakan naik ke mimbar untuk khotbah. Ternyata khatib tersebut tidak lain adalah tukang becak yang sering melempar senyum apabila berpapasan dengan saya.

Mertua perempuan saya di Kabupaten Bulukumba, pada suatu hari naik becak dari sekolah menuju rumahnya yang berjarak kurang lebih dua kilometer.

Dalam perjalanan, si tukang becak bertanya kepada mertua saya tentang total biaya yang dibutuhkan mulai masuk kuliah hingga selesai. Kebetulan si tukang becak memiliki anak perempuan semata-wayang yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.

Mertua saya yang kepala sekolah dasar dan bergelar sarjana itu pun mengemukakan bahwa biaya kuliah sekarang (waktu itu) agak mahal, apalagi kalau ingin mengambil program studi tertentu seperti kedokteran.

Mendengar jawaban mertua saya, si tukang becak kemudian bertanya.

“Bu, saya punya tabungan Rp 60 juta. Apakah itu cukup atau belum?” tanya si tukang becak dengan polos seperti ditirukan mertua saya.

Dengan malu sambil tersenyum kecut, mertua saya mengatakan bahwa uang sebanyak itu sudah lebih dari cukup untuk biaya kuliah, mulai pendaftaran hingga selesai kuliah.

“Daeng (panggilan umum kepada tukang becak di Sulsel), saya ini sudah lama jadi guru dan sekarang sudah kepala sekolah, bahkan saya sudah hampir pensiun. Terus-terang saya belum pernah memiliki tabungan sebanyak itu,” kata mertua saya kepada si tukang becak.

Di Kendal, Jawa Tengah, seorang tukang becak jadi terkenal ke seluruh Indonesia dan di mancanegara, karena putri bungsunya berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Anak perempuannya yang bernama Raeni, bisa kuliah (pada Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Unnes), karena mendapatkan beasiswa bidikmisi dari pemerintah.

Berkat prestasi tersebut, Raeni mendapat tawaran dari puluhan perusahaan untuk diangkat sebagai karyawan. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya mensponsori Raeni untuk kuliah S2 di Inggris.

Sebuah stasiun televisi juga langsung menyatakan keinginannya menghadirkan Raeni sebagai sosok muda yang cerdas untuk memotivasi anak-anak muda lain di Tanah Air.

Kita tentu menyadari bahwa di antara teman-teman Raeni yang kuliah di Unnes, ada yang berasal dari keluarga pejabat, akademisi, serta pengusaha atau pedagang kaya, dan mereka semua “kalah” dari anak seorang tukang becak.

Itulah beberapa kisah nyata tentang tukang becak yang secara tidak langsung “memberi pelajaran yang sangat berarti” kepada kita.

--------------
@Copyright Majalah Almamater, edisi ke-6, Agustus 2014
---------------------------------------------------------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini